Kamis, 21 Mei 2026

Tulisanku terbit di MAJALAH SAKINAH

Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, puji syukur kehadirat Allah SWT dan junjungan kita nabi Muhammad SAW saya atas nama keluarga besar Keraton Sambaliung mengucapkan terima kasih banyak atas terbitnya kembali tulisan saya di "Majalah Sakinah" yang syarat dengan ilmu pengetahuan, inspiratif dan mendidik. Semoga bermanfaat bagi semua pembaca diseluruh Indonesia tercinta. Jika ingin membaca dan mendapatkan informasi bermanfaat dari "Majalah Sakinah" bisa melalui http://www.sakinahpenyejukjiwa.com dan toko buku terdekat di kota anda. Jangan lupa untuk memiliki majalahnya.

Sultan Alimuddin (RAJA ALAM)

Sultan Alimuddin yang bergelar "Raja Alam" penjaga martabat Sambaliung

Di masa ketika pesisir Borneo menjadi rebutan kepentingan asing dan perebutan kekuasaan antar kerajaan, berdiri seorang pemimpin yang namanya masih disebut dengan hormat di Berau: "Sultan Alimuddin" yang bergelar "RAJA ALAM".

Gelar itu bukan sekadar nama indah. "Raja Alam" berarti penguasa yang memahami hukum alam, hukum adat, dan hukum Tuhan. Bagi rakyat Sambaliung, ia adalah pemimpin yang memerintah bukan dengan ketakutan, tapi dengan keadilan dan keberanian.

Kepahlawanannya terlihat saat ia menjaga kedaulatan Sambaliung di tengah tekanan kolonial dan ambisi kerajaan tetangga. Ia menolak tunduk begitu saja. Dengan diplomasi yang cerdik dan keteguhan yang tak tergoyahkan, Sultan Alimuddin menjaga Sambaliung tetap berdiri sebagai kesultanan merdeka yang dihormati. Ia tahu, kehilangan kedaulatan berarti kehilangan adat, bahasa, dan harga diri rakyatnya.

Di medan perundingan, ia tenang tapi tajam. Di hadapan rakyatnya, ia hadir sebagai ayah yang melindungi. Ia membangun sistem pemerintahan berdasarkan hukum adat dan syariat Islam, memastikan setiap keputusan berpihak pada kemaslahatan orang banyak. Di bawah kepemimpinannya, Sambaliung menjadi pusat perdagangan dan kebudayaan yang ramai, tempat pedagang Bugis, Banjar, Dayak dan Tionghoa bertemu. 

Tapi yang paling diingat rakyat bukanlah harta atau istana yang ia bangun. Yang melekat adalah sikapnya: tidak pernah mengorbankan rakyat demi kepentingan pribadi, tidak pernah mundur ketika martabat Sambaliung diinjak. Ia memilih menjadi perisai.

Hingga kini, gelar "RAJA ALAM" masih hidup di ingatan orang Berau. Bukan karena ia tak terkalahkan, tapi karena ia memilih memimpin dengan tanggung jawab. Di tengah dunia yang berubah cepat, kisahnya mengingatkan kita bahwa kepahlawanan sejati adalah keberanian menjaga apa yang berharga: tanah, adat, dan manusia di dalamnya.

Sultan Alimuddin telah tiada. Tapi semangatnya masih mengalir di Sungai Berau yaitu Sungai Kelay, di tiang ulin Keraton Sambaliung, dan di dada setiap orang yang menolak menyerah pada ketidakadilan.

Sabtu, 07 Maret 2026

Eksistensi Kesultanan Sambaliung

Potongan majalah saat menulis kegiatan Sultan Sambaliung ( Sultan Muhammad Aminuddin ) pada  09 Oktober 1947 yang dikirimkan langsung dari Belanda kepada ayahanda DATU FACHRUDDIN ketika beliau masih memegang jabatan sebagai "Pemangku Kesultanan Sambaliung". Dalam foto terlihat juga Sultan Achmad Maulana dari Kesultanan Gunung Tabur. Potongan berita tersebut masih kami simpan sebagai koleksi pribadi.
#kesultanansambaliung #keratonsambaliung #eastborneo #beraukaltim #berau #banuabarrau #banua #beraupost #kaltimpostgroup #heritage #jejak_budaya #kampanyebudaya #lingkarberau #visitberau #nusantarakuindonesia

Selasa, 22 September 2020

Keraton Sambaliung dan Zuriatnya

   Mengutip apa yang disampaikan oleh sejarawan Anhar Gonggong dalam acara ILC beberapa waktu yang lalu bahwa "identitas etnik dan identitas Indonesia itu tidak bertentangan karena yang mendirikan Indonesia adalah etnik-etnik ini. Siapa etnik itu? Raja-raja, Pangeran-pangeran, keluarga-keluarga Raja. Mereka itulah yang mendirikan Indonesia yang menjadi pahlawan Nasional juga sebagian besar dari mereka. Jadi Indonesia ada oleh karena ada etnik yang dulu memiliki kerajaan-kerajaan lokal. Sebagian dari Raja-raja itu pendiri Republik ini dan keluarga mereka juga pendiri Republik ini. Kapan hilangnya kerajaan-kerajaan ini? Tahun 1959. Ketika proses pembentukan demokrasi terpimpin maka kemudian SWAPRAJA dihilangkan. Tetapi hilangnya mereka tidak dalam arti kata bahwa mereka hilang secara budaya. Karena memang Indonesia tidak mungkin hilang juga. Tidak mungkin punya budaya tanpa tetap mengadakan budaya-budaya yang dilahirkan oleh kerajaan-kerajaan lokal ini dan itu yang harus dipahami orang".

Dari kutipan penuturan sejarawan di atas sangat jelas bahwa Keraton dan Zuriatnya saling berkaitan dan sejarah tidak dapat ditolak faktanya. Apalagi keberadaan KERATON SAMBALIUNG sangat berpengaruh terhadap budaya, adat-istiadat dan kearifan lokal masyarakat setempat. Upaya pelestarian kebudayaan nasional tidak dapat dipisahkan dari upaya pendataan dan pengungkapan aspek-aspek kebudayaan yang ada di Indonesia. Melalui upaya tsb diharapkan bahwa keragaman budaya tercermin dalam aspek-aspek budaya keraton yang memiliki ciri khas tersendiri yang sejatinya adalah bagian dari identitas bangsa Indonesia agar dapat tetap terjaga.

Sebagai suatu sistem dengan seperangkat pranata sosial, keraton tumbuh dan berkembang seiring dengan pertumbuhan suatu wilayah dan tata kelola pemerintahan tradisional. Maka tidaklah berlebihan jika dikatakan bahwa keberadaan keraton berkontribusi terhadap terbentuknya suatu identitas tertentu dlm masyarakat dimana keraton tersebut berada. Fungsi keraton saat ini sebagai pusat kebudayaan harus terus dipelihara dan dikembangkan.

Rabu, 05 Juli 2017

SINGGASANA KERATON KESULTANAN SAMBALIUNG

Destinasi Wisata Sejarah~~~~SINGGASANA KERATON SAMBALIUNG~~~
Singgasana Keraton Kesultanan Sambaliung ini biasanya digunakan apabila ada acara besar seperti acara pesta pernikahan kerabat dekat Keraton Sambaliung dan acara Kesultanan. Singgasana berhias kain kuning dan bertabur "kida-kida" (berbentuk ukiran daun terbuat dari kuningan yang disambung dengan butiran manik-manik). Kemudian ditempelkan menggantung pada kain kuning dan dihiasi taburan manik-manik kecil sebagai penghias singgasana agar tampak lebih cantik dan elegan dengan menonjolkan sisi warna kerajaan yaitu kuning. Hiasan cantik ini bagian dari atribut Keraton Sambaliung yang harus ada dan tetap akan kami lestarikan adat budayanya. Semua didominasi dengan warna kuning keemasan yang identik dengan warna keagungan dalam sejarah Kesultanan Sambaliung. Singgasana ini terdapat di dalam salah satu kamar Keraton Sambaliung.

Selasa, 06 Juni 2017

Pesona Dua Singgasana Kesultanan

Dua Singgasana yang berbeda dari dua kesultanan yang ada di Berau yaitu kesultanan Sambaliung dan kesultanan Gunung Tabur

Selasa, 17 Januari 2017

KERATON SAMBALIUNG


"KERATON SAMBALIUNG" salah satu saksi sejarah para Raja/Sultan yang pernah menetap dan tinggal di istana ini. Kemegahannya masih tersisa sampai dengan detik ini dari bangunannya yang kokoh dan tidak hancur walau saat para serdadu sekutu membombardir istana/keraton SAMBALIUNG ini sekitar thn 1945 ....dia masih ada dan satu-satunya yang tersisa di Berau Kalimantan Timur.